

Pernahkah kamu merasa nyeri gigi yang datang tiba-tiba dan langsung mencari paracetamol di rumah? Banyak orang melakukan hal yang sama karena obat ini mudah didapat tanpa resep. Berdasarkan data WHO, sekitar 70% masyarakat menggunakan paracetamol sebagai pilihan pertama untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang.
Namun, benarkah paracetamol cukup efektif untuk mengatasi penyebab utamanya? Baca terus artikel ini untuk memahami cara kerja, dosis yang aman, dan batasan penggunaan paracetamol agar kamu tetap mendapatkan hasil yang aman dan efektif.

Paracetamol atau acetaminophen merupakan salah satu obat yang paling sering digunakan untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam. Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari tablet, sirup, hingga suppositoria, sehingga bisa digunakan oleh berbagai kelompok usia.
Meski sering dianggap mirip dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen, sebenarnya paracetamol memiliki mekanisme kerja dan fungsi utama yang berbeda.
Paracetamol bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat, khususnya dengan menghambat enzim bernama cyclooxygenase (COX) di otak. Enzim ini berperan dalam produksi prostaglandin, yaitu zat kimia alami yang memicu rasa nyeri dan demam dalam tubuh. Dengan menghambat produksi prostaglandin di sistem saraf pusat:
Namun, berbeda dari NSAID, paracetamol tidak bekerja pada jaringan yang mengalami peradangan, sehingga tidak mengurangi pembengkakan atau peradangan di area gigi atau gusi.
Paracetamol umumnya efektif untuk nyeri ringan hingga sedang yang tidak disertai peradangan berat. Beberapa jenis nyeri yang dapat dibantu dengan paracetamol antara lain:
Artinya, saat sakit gigi baru terasa sebagai nyeri ringan tanpa pembengkakan atau nyeri berdenyut yang hebat, paracetamol bisa menjadi pilihan sementara untuk menenangkan rasa sakit.
Beberapa alasan mengapa paracetamol sering direkomendasikan, khususnya untuk penggunaan jangka pendek:
Namun, tetap penting untuk memperhatikan dosis agar tidak berlebihan. Dosis tinggi dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, terutama pada orang yang sering mengonsumsi alkohol atau memiliki riwayat penyakit hati.
Meskipun mampu meredakan nyeri sementara, paracetamol tidak bisa mengatasi penyebab utama sakit gigi seperti:
Dalam kondisi ini, rasa sakit hanya akan mereda sementara dan kembali muncul ketika efek obat mulai hilang. Itulah mengapa penggunaan paracetamol perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan gigi profesional agar sumber nyeri bisa ditangani dengan tepat.
Kamu bisa menggunakan paracetamol saat:
Jika nyeri tidak berkurang dalam waktu 48 jam atau malah semakin hebat, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan di klinik gigi profesional seperti Sozo Dental agar penyebab sakit bisa diketahui dan diatasi segera.
Paracetamol memang bermanfaat, tetapi penggunaannya sebaiknya dianggap sebagai langkah sementara, bukan solusi utama untuk masalah gigi. Hanya perawatan yang menargetkan penyebab langsung, seperti tambalan, scaling, atau perawatan saraf, yang dapat benar-benar menghilangkan nyeri secara tuntas.
Mengetahui dosis paracetamol yang tepat sangat penting agar obat ini efektif meredakan nyeri tanpa menimbulkan efek samping berbahaya. Meskipun tergolong aman, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati atau menurunkan efektivitas obat itu sendiri.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta WHO menetapkan panduan umum dosis paracetamol yang disesuaikan dengan usia dan berat badan pengguna.
Untuk dewasa, dosis yang disarankan bergantung pada tingkat nyeri dan bentuk sediaan obat yang digunakan. Secara umum:
Kamu tidak disarankan mengonsumsi lebih dari delapan tablet 500 mg dalam 24 jam. Penggunaan dosis lebih tinggi dari anjuran dapat menyebabkan kerusakan hati dan, dalam kasus ekstrem, bisa berakibat fatal.
Tips tambahan untuk penggunaan yang aman:
Anak-anak memerlukan penyesuaian dosis berdasarkan berat badan karena metabolisme ila masih berkembang. Prinsip umumnya:
Contoh perhitungan:
Paracetamol bentuk sirup sebaiknya disimpan pada suhu ruangan dan hindari paparan sinar matahari langsung untuk menjaga kestabilan obat. Konsultasikan dulu dengan dokter jika anak memiliki riwayat penyakit hati atau sedang mengonsumsi obat lain.
Beberapa kondisi memerlukan perhatian ekstra karena metabolisme paracetamol bisa berubah:
Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan hepatotoksisitas atau kerusakan hati. Gejala awal biasanya muncul 1–2 hari setelah konsumsi dosis tinggi:
Jika gejala seperti ini terjadi, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu kondisi memburuk, karena kerusakan hati akibat overdosis paracetamol bisa berlangsung cepat dan sulit diatasi bila ditangani terlambat.
Meskipun paracetamol dapat membantu meredakan nyeri akibat sakit gigi, banyak yang tidak menyadari bahwa obat ini tidak memiliki efek antiinflamasi maupun antibakteri. Artinya, paracetamol tidak mampu mengatasi penyebab utama nyeri seperti pembengkakan gusi, infeksi akar gigi, atau abses yang biasanya menjadi sumber masalah.
Sakit gigi tidak hanya disebabkan oleh saraf yang sensitif, tapi sering kali karena peradangan jaringan atau infeksi oleh bakteri. Dalam kondisi tersebut, paracetamol hanya memblokir sinyal nyeri di otak, bukan menghentikan proses peradangan di area mulut. Dengan kata lain, obat ini hanya memberikan kenyamanan sementara, tetapi:
Perbedaan utama antara paracetamol dan obat golongan antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau asam mefenamat terletak pada tempat kerja obat tersebut.
Itu sebabnya, ketika gusi sudah bengkak atau ada infeksi pada gigi, hanya paracetamol tidak cukup untuk menghentikan proses peradangannya. Dokter gigi biasanya akan menambahkan obat antiinflamasi atau antibiotik sesuai penyebabnya.
Kamu perlu segera ke dokter gigi jika mengalami gejala seperti:
Dalam kondisi ini, penggunaan paracetamol terus-menerus hanya akan menutupi gejala sementara tanpa menyelesaikan sumber masalahnya.
Menunda perawatan gigi dengan mengandalkan paracetamol bisa membawa dampak serius, seperti:
Sakit gigi biasanya disebabkan oleh masalah pada jaringan keras atau lunak di dalam mulut—bukan hanya akibat stres atau kelelahan. Jika penyebabnya gigi berlubang dalam, infeksi akar, atau abses gusi, obat pereda nyeri tidak bisa menghentikan infeksinya.
Paracetamol dapat memberi rasa nyaman sementara. Namun jika tidak disertai perawatan yang menyelesaikan sumber infeksi, rasa sakit akan kembali bahkan bisa menjadi lebih parah.
Banyak kasus di Sozo Dental menunjukkan bahwa pasien yang hanya mengandalkan obat nyeri sering datang dengan kondisi gigi yang sudah rusak lebih dalam. Setelah dilakukan perawatan saluran akar, hasilnya jauh lebih baik dan nyeri tidak kambuh lagi.
Sambil menunggu jadwal ke dokter gigi, kamu tetap bisa menggunakan paracetamol dengan aman jika:
Ingat, tujuan utama paracetamol hanya membantu menurunkan rasa nyeri sementara. Setelah penyebab yang sebenarnya ditangani, rasa sakit tidak akan kembali.
Segera buat janji dengan dokter gigi jika kamu mengalami gejala berikut ini:
Menunda pemeriksaan hanya memperberat kondisi dan membuat pengobatan lebih mahal nantinya. Sozo Dental menyediakan pemeriksaan menyeluruh dengan teknologi digital untuk menentukan penyebab pasti sakit gigi dan memberikan perawatan yang sesuai.
Di Sozo Dental, semua kasus sakit gigi ditangani secara menyeluruh, tidak hanya menghilangkan nyerinya. Setiap pasien mendapat pemeriksaan lengkap meliputi rontgen digital dan evaluasi kondisi saraf gigi. Pilihan perawatan Sozo Dental meliputi:
Ada alasan mengapa banyak pasien mempercayakan perawatan mereka kepada tim Sozo Dental:
Selain itu, Sozo Dental rutin memberikan promo perawatan sakit gigi agar kamu bisa segera mendapatkan tindakan dengan biaya lebih terjangkau.
Segera lakukan pemeriksaan menyeluruh di Sozo Dental agar penyebab sebenarnya ditangani dengan tepat. Dengan perawatan yang benar, kamu bisa kembali makan, tersenyum, dan beraktivitas tanpa rasa sakit.
Buat janji melalui WhatsApp Sozo Dental hari ini dan nikmati promo perawatan terbatas selama periode berlangsung. Jangan menunggu nyeri menjadi lebih parah, atasi sekarang dengan langkah yang aman dan profesional.
