Sisa Akar Gigi yang Tertinggal Kenapa Tidak Boleh Dibiarkan?

Sisa akar gigi sering terasa sepele karena kadang tidak langsung menimbulkan nyeri hebat. Namun, banyak panduan kedokteran gigi menjelaskan bahwa akar yang tertinggal dapat menjadi sumber infeksi, nyeri berulang, bengkak, hingga terbentuk kista di tulang rahang jika dibiarkan terlalu lama.

Untuk memahami kenapa sisa akar gigi tidak boleh dibiarkan dan apa langkah aman yang bisa dilakukan, artikel ini bisa dibaca sampai selesai.

Chat Whatsapp Konsultasi Sozo Dental

Apa Itu Sisa Akar Gigi dan Kenapa Bisa Tertinggal?

Sisa akar gigi adalah bagian akar yang masih tertanam di dalam gusi dan tulang setelah mahkota gigi patah, copot, atau dicabut tidak tuntas.​

Biasanya, sisa akar muncul pada kondisi:

  • Gigi berlubang sangat besar, sehingga tinggal dinding tipis yang mudah patah saat dikunyah atau saat dicabut.
  • Gigi dengan akar melengkung atau rapuh, sehingga sebagian akar bisa tertinggal saat pencabutan.
  • Gigi patah karena benturan atau kecelakaan, menyisakan akar di dalam gusi.

Penyebab Akar Gigi Bisa Tertinggal Setelah Gigi Patah atau Copot

Beberapa faktor membuat akar gigi lebih mudah tertinggal.

Penyebab yang sering terjadi:

  • Karies (lubang) dalam yang membuat mahkota rapuh, sehingga ketika gigi digigit atau dicabut, bagian atas hancur, akar tertinggal.
  • Struktur akar yang bengkok, bercabang, atau sangat tipis, membuatnya sulit terangkat utuh dalam satu kali gerakan.​
  • Proses pencabutan darurat atau tidak terencana, misalnya saat gigi sudah infeksi berat dan jaringan sekitarnya rapuh.

Kadang, sisa akar tidak langsung disadari, terutama jika pecahan kecil dan tertutup gusi.

Gejala Sisa Akar yang Mulai Menimbulkan Keluhan

Pada awalnya, sisa akar gigi bisa saja tidak bergejala. Namun, seiring waktu, berbagai keluhan mulai muncul.

Gejala yang perlu dicermati:

  • Rasa ngilu atau nyeri tumpul di area bekas gigi, terutama saat mengunyah di sisi tersebut.​
  • Gusi di atasnya tampak bengkak, merah, atau ada benjolan kecil.
  • Terasa “sisa tajam” atau tonjolan keras di gusi yang mengganggu lidah atau pipi.
  • Bau mulut tidak sedap atau rasa tidak enak di area tersebut, kadang disertai keluar nanah.

Pada kasus yang lebih berat, nyeri bisa menjalar ke rahang, telinga, atau pipi, bahkan disertai demam.

Risiko Infeksi Bila Sisa Akar Tidak Diangkat

Risiko infeksi dari sisa akar gigi yang dibiarkan sebenarnya cukup besar, meski awalnya terasa “biasa saja”. Berbagai sumber kesehatan gigi menjelaskan bahwa akar yang tertinggal dapat menjadi sarang bakteri, memicu infeksi lokal, abses berisi nanah, bahkan memengaruhi jaringan tulang dan kesehatan umum bila tidak segera diatasi.

1. Sisa Akar Menjadi Sarang Bakteri dan Sumber Infeksi

Saat mahkota gigi sudah hilang, sisa akar yang tertinggal biasanya tidak lagi memiliki fungsi mengunyah. Namun, permukaan akar yang terbuka dapat menjadi tempat berkumpulnya plak, sisa makanan, dan bakteri.

Risiko yang muncul di tahap ini:

  • Bakteri berkembang biak di sekitar ujung akar dan jaringan gusi sekitarnya.
  • Terjadi peradangan kronis yang perlahan-lahan merusak jaringan penyangga gigi.
  • Muncul rasa tidak nyaman, bau mulut, atau rasa “anyir” di daerah tersebut.

Meskipun nyerinya belum hebat, proses infeksi sebenarnya sudah berjalan di bawah permukaan gusi.

2. Terbentuk Abses (Kantung Nanah) di Sekitar Akar

Jika infeksi dari sisa akar semakin aktif, tubuh merespons dengan membentuk kumpulan nanah di sekitar akar, yang dikenal sebagai abses.

Ciri abses terkait sisa akar:

  • Bengkak di gusi setempat, bisa tampak seperti benjolan berisi nanah.
  • Nyeri berdenyut, terutama saat mengunyah atau ketika berbaring.
  • Kadang keluar nanah ke dalam mulut yang menimbulkan rasa tidak enak dan bau mulut kuat.

Abses yang tidak ditangani dapat pecah sendiri, tetapi sumber infeksi tetap ada. Ini membuat abses berpotensi muncul lagi di waktu lain.

3. Infeksi Menyebar ke Jaringan Sekitar (Gusi, Pipi, dan Rahang)

Infeksi dari sisa akar tidak selalu berhenti di sekitar ujung akar. Jika daya tahan tubuh menurun atau jumlah bakteri sangat banyak, infeksi bisa menyebar ke jaringan sekitarnya.

Risiko penyebaran lokal:

  • Pembengkakan meluas ke pipi, bibir, atau area sekitar rahang.
  • Gusi sangat nyeri saat disentuh, dan mulut sulit dibuka lebar.
  • Rasa nyeri bisa menjalar ke telinga, pelipis, atau leher.

Pada tahap ini, infeksi sudah termasuk serius dan sering memerlukan penanganan segera, bukan hanya obat nyeri biasa.

4. Kerusakan Tulang Penyangga Gigi

Infeksi kronis di sekitar sisa akar dapat perlahan-lahan merusak tulang rahang yang mengelilinginya.

Akibat pada tulang:

  • Tulang di sekitar ujung akar mengalami resorpsi (terkikis), sehingga tampak “berlubang” pada foto rontgen.
  • Struktur tulang menjadi lemah, yang nantinya menyulitkan pemasangan gigi pengganti seperti implan atau jembatan.
  • Gigi tetangga bisa ikut terganggu kestabilannya karena tulang penyangga berkurang.

Semakin lama sisa akar dibiarkan, semakin besar kemungkinan tulang yang hilang, dan semakin rumit rencana perawatan ke depan.

5. Meningkatnya Risiko Kista di Sekitar Ujung Akar

Infeksi kronis di sekitar sisa akar dapat memicu terbentuknya kista pada ujung akar.

Risiko terkait kista:

  • Kista tumbuh perlahan dan bisa membesar tanpa gejala jelas di awal.
  • Seiring waktu, kista mendorong dan melemahkan tulang sekitar, membuat rahang tampak menipis di area tersebut.
  • Kista yang besar sering memerlukan pembedahan lebih luas untuk dibersihkan, bukan sekadar pencabutan sisa akar.

Dengan mengangkat sisa akar sebelum kista terbentuk, tindakan yang diperlukan biasanya jauh lebih sederhana.

6. Risiko Luka dan Sariawan Berulang di Permukaan Mulut

Selain infeksi di dalam tulang, sisa akar yang posisinya menonjol dapat melukai jaringan lunak sekitarnya.

Dampak pada permukaan mulut:

  • Pipi bagian dalam atau lidah sering tergesek ujung akar atau tepi gigi yang tersisa.
  • Muncul sariawan berulang di area yang sama, sehingga makan dan bicara terasa perih.
  • Luka kronis berisiko terinfeksi dan memperparah bau mulut.

Menghaluskan atau mengangkat sumber tajam dari sisa akar membantu menghentikan siklus luka berulang ini.

7. Nyeri Kronis dan Kualitas Hidup yang Menurun

Infeksi yang bersumber dari sisa akar bisa menyebabkan nyeri kronis, meski kadang tidak selalu sangat tajam.

Dampaknya pada keseharian:

  • Rasa tidak nyaman terus-menerus di satu sisi rahang.
  • Susah mengunyah di sisi tersebut, sehingga pola makan terganggu.
  • Tidur terganggu ketika nyeri datang tiba-tiba di malam hari.

Kondisi seperti ini sering membuat orang bergantung pada obat nyeri, padahal sumber masalahnya masih tertinggal di gusi.

8. Bau Mulut dan Rasa Tidak Sedap yang Sulit Hilang

Sisa akar yang terinfeksi dan jaringan di sekitarnya yang meradang menjadi tempat ideal bagi bakteri penghasil bau.

Apa yang bisa terjadi:

  • Bau mulut (halitosis) yang sulit hilang meski rutin menyikat gigi dan memakai obat kumur.
  • Rasa asam atau anyir di mulut, terutama ketika nanah dari infeksi keluar sedikit demi sedikit.

Menghilangkan sisa akar dan membersihkan jaringan infeksi sering menjadi kunci untuk mengatasi bau mulut jenis ini.

Risiko Kista Bila Sisa Akar Dibiarkan Bertahun-Tahun

Selain infeksi, sisa akar yang lama dibiarkan juga dapat memicu terbentuknya kista di sekitar ujung akar.

Beberapa hal tentang kista:

  • Kista gigi (periapikal) berkembang sebagai respons tubuh terhadap infeksi kronis di sekitar akar yang mati.​
  • Kista bisa membesar perlahan tanpa gejala jelas, kemudian menimbulkan bengkak, nyeri, atau mendorong gigi tetangga keluar dari posisi semula.
  • Kista besar bisa memperlemah tulang rahang dan kadang memerlukan tindakan bedah lebih luas untuk dibersihkan.​

Menghilangkan sumber infeksi, yaitu sisa akar, adalah langkah penting untuk mencegah kista berkembang.

Mengapa Sisa Akar Gigi Tidak Boleh Dianggap “Biasa Saja”?

Sebagian orang merasa tidak masalah selama tidak terlalu sakit. Namun, sisa akar yang dibiarkan berarti:

  • Ada sumber kuman yang terus-menerus “berdiam” di dalam jaringan.
  • Risiko munculnya nyeri mendadak, bengkak, atau abses selalu ada, sering datang di waktu yang tidak tepat.
  • Tulang di sekitar akar dapat mengalami kerusakan pelan-pelan tanpa disadari.

Dengan kata lain, sisa akar gigi adalah “bom waktu” kecil di dalam mulut yang sebaiknya diatasi sebelum meledak menjadi masalah besar.

Prosedur Pengangkatan Sisa Akar di Klinik Gigi

Pengangkatan sisa akar merupakan tindakan rutin di klinik gigi. Prosedurnya disesuaikan dengan posisi dan ukuran akar yang tertinggal.

Gambaran umum prosedur:

  • Dokter melakukan pemeriksaan klinis dan foto rontgen untuk melihat posisi akar, panjang, bentuk, dan kondisi tulang di sekitarnya.​
  • Anestesi lokal diberikan agar area tersebut mati rasa dan tindakan terasa nyaman.
  • Jika sisa akar cukup mudah dijangkau, dokter dapat mengangkatnya dengan alat khusus melalui bukaan gusi minimal.
  • Jika akar terbenam lebih dalam, mungkin diperlukan sayatan kecil di gusi dan sedikit pengikisan tulang untuk mencari dan mengangkat akar secara utuh.​

Setelah pengangkatan, area dibersihkan dan biasanya dijahit. Pasca tindakan, pasien akan diberi panduan perawatan, obat nyeri, dan kontrol ulang bila perlu.

Apakah Pengangkatan Sisa Akar Selalu Sulit dan Menakutkan?

Banyak orang membayangkan tindakan ini menakutkan. Padahal, dengan teknik dan anestesi yang tepat, prosedur pengangkatan sisa akar umumnya dapat dilakukan dengan nyaman.

Hal yang membantu menenangkan:

  • Anestesi lokal membuat kamu tidak merasakan nyeri tajam, hanya tekanan atau getaran ringan.
  • Dokter akan menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan, sehingga kamu tahu apa yang sedang dikerjakan.
  • Pada akar yang posisinya rumit, dokter dapat merencanakan tindakan bedah kecil secara terstruktur agar risiko minimal.

Memilih klinik dan dokter yang terbiasa melakukan tindakan ini membantu membuat pengalaman lebih tenang.

Kalau Kamu Merasa Ada “Sisa Tajam” di Gusi Bekas Gigi yang Hilang

Kalau kamu merasa ada “sisa tajam” di gusi bekas gigi yang hilang, sebaiknya periksa ke Sozo Dental Clinic untuk memastikan apakah masih ada akar yang tertinggal. Sensasi tajam bisa berasal dari sisa akar, serpihan gigi, atau bahkan fragmen tulang kecil di area bekas cabut.​

Di Sozo Dental, dokter akan memeriksa area tersebut, melakukan rontgen bila diperlukan, dan menjelaskan kondisi sebenarnya. Dari sini, kamu bisa tahu apakah cukup observasi atau memang perlu tindakan pengangkatan.

Layanan Sozo Dental untuk Menangani Sisa Akar Gigi

Sozo Dental menyediakan layanan tindakan bedah kecil dan pencabutan sisa akar dengan pendekatan yang terencana.

Layanan yang relevan:

  • Pemeriksaan lengkap dengan rontgen untuk memetakan posisi akar dan struktur tulang.
  • Pencabutan sisa akar sederhana hingga kasus yang memerlukan pembedahan kecil.
  • Perencanaan gigi pengganti setelah area sembuh, misalnya dengan gigi tiruan, jembatan, atau perencanaan implan.
  • Edukasi perawatan luka pasca pencabutan agar penyembuhan berjalan cepat dan bersih.

Keunggulan Pendekatan Sozo Dental

Pendekatan di Sozo Dental tidak hanya fokus menghilangkan sisa akar, tetapi juga memikirkan langkah selanjutnya untuk kesehatan dan fungsi gigi secara keseluruhan.

Keunggulan yang bisa kamu rasakan:

  • Penjelasan sebelum tindakan mengenai risiko bila sisa akar dibiarkan dan manfaat jika segera diangkat.
  • Rencana perawatan bertahap, termasuk kapan waktu terbaik memasang gigi pengganti agar fungsi kunyah tetap seimbang.
  • Fokus menjaga kenyamanan, dengan pemilihan anestesi dan teknik yang meminimalkan rasa tidak nyaman.

Sisa akar gigi bukan sekadar “sisa biasa” yang akan hilang sendiri. Di dalamnya ada potensi infeksi, nyeri mendadak, dan kista yang bisa mengganggu kesehatan gigi lain dan tulang rahang.

Dengan pemeriksaan yang tepat dan tindakan pengangkatan yang terencana di klinik seperti Sozo Dental, sisa akar gigi bisa diatasi sebelum menimbulkan masalah yang lebih berat. Dari sana, kamu dapat melangkah ke tahap berikutnya, yaitu merencanakan gigi pengganti dan menjaga susunan gigi tetap sehat serta nyaman untuk jangka panjang.​

Chat Whatsapp Konsultasi Sozo Dental