Mengetahui perbedaan gigi susu dan gigi permanen sangat penting agar kamu bisa memantau pertumbuhan gigi anak dengan tepat. Berdasarkan data Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia, sekitar 30% anak usia di bawah 6 tahun mengalami kerusakan gigi susu karena perawatan yang kurang optimal — dan hal ini bisa memengaruhi gigi permanennya di masa depan.
Salah satu orang tua pasien di Sozo Dental Clinic membagikan pengalamannya, “Setelah konsultasi di Sozo, dokter menjelaskan dengan sabar perbedaan gigi susu dan permanen anak saya. Sekarang saya jauh lebih tenang dan tahu cara merawatnya.”

Mengapa Penting Memahami Perbedaan Gigi Susu dan Permanen
Gigi anak berkembang dalam dua tahap utama. Tahap pertama adalah gigi susu (gigi sementara), dan selanjutnya gigi permanen (gigi tetap). Keduanya punya fungsi yang berbeda, baik dari segi jumlah, ukuran, maupun kekuatan.
Memahami perbedaannya membantu kamu:
- Mengenali kapan gigi anak tumbuh dan tanggal.
- Mengetahui normal tidaknya kondisi gigi si kecil.
- Mencegah kerusakan yang dapat mengganggu gigi permanen.
Dokter gigi anak di Sozo Dental Clinic sering menemui kasus ketika gigi susu rusak parah dan memengaruhi pertumbuhan gigi tetap di bawahnya. Dengan edukasi dini, hal ini bisa dicegah.
Jumlah dan Ukuran Gigi Susu Dibanding Gigi Permanen
Jumlah Gigi Susu vs Gigi Permanen
Gigi susu berjumlah 20 buah, terdiri dari 10 di rahang atas dan 10 di rahang bawah. Sementara itu, gigi permanen berjumlah 32 buah (termasuk gigi geraham bungsu).
Perbedaan jumlah ini penting agar kamu tahu kapan gigi anak sudah lengkap. Misalnya, bila anak usia 7 tahun masih memiliki gigi susu lebih dari sepuluh, itu normal, karena masa pergantian baru dimulai.
Ukuran Gigi Susu vs Gigi Permanen
Gigi susu berukuran lebih kecil dan putih kebiruan, sementara gigi permanen lebih besar dan kekuningan. Warna alami ini bukan tanda gigi kotor, melainkan karena email gigi permanen lebih tebal dan padat.
Baca Juga: Gigi Berlubang Tumbuh Daging: Penyebab, Bahaya, dan Solusi
Waktu Tumbuh dan Tanggalnya Gigi Susu vs Gigi Permanen
Secara umum, gigi susu mulai muncul pada usia 6 bulan dan lengkap di usia 2,5 tahun. Gigi ini akan mulai tanggal sekitar usia 6 tahun, dan digantikan gigi permanen hingga usia 12–13 tahun.
Urutannya pun berbeda:
- Gigi depan bawah biasanya tumbuh dan tanggal pertama.
- Gigi geraham besar permanen muncul tanpa menggantikan gigi susu.
- Gigi geraham bungsu baru tumbuh di usia 17 tahun ke atas.
Jika bingung membedakan gigi susu dan permanen anak, dokter di Sozo Dental Clinic bisa menjelaskan sambil menunjukkan langsung pada gigi si kecil, agar kamu lebih mudah memahami bentuk dan posisinya.
Perbedaan Struktur dan Ketahanan Email Gigi Susu dan Permanen
Struktur Email Gigi Susu
Email gigi susu lebih tipis dan mudah rusak. Ketika terpapar makanan manis atau minuman asam, gigi lebih cepat mengalami lubang. Oleh karena itu, gigi susu perlu perawatan ekstra hati-hati.
Struktur Email Gigi Permanen
Email gigi permanen jauh lebih tebal dan kuat. Namun, sekali rusak, kerusakannya bersifat permanen. Itulah mengapa penting melatih anak menjaga kebersihan gigi sejak dini, supaya kebiasaan baik itu terbawa hingga dewasa.
Di Sozo Dental Clinic, dokter menggunakan teknologi pembersihan ultrasonik yang mampu membersihkan hingga ke sela kecil tanpa membuat anak takut. Banyak pasien anak yang akhirnya menikmati proses “membersihkan gigi rutin” karena suasananya tenang dan menyenangkan.
Dampak Kerusakan Gigi Susu terhadap Gigi Permanen di Bawahnya
Salah satu hal yang sering diremehkan adalah kerusakan pada gigi susu. Padahal, gigi susu berperan menjaga ruang tumbuh gigi permanen di bawahnya.
Jika gigi susu rusak, lepas terlalu cepat, atau terinfeksi, maka:
- Arah tumbuh gigi permanen bisa berubah.
- Rahang bisa sempit dan menyebabkan gigi tumbuh tumpang tindih.
- Infeksi bisa menembus ke akar gigi di bawahnya.
Tim dokter anak di Sozo Dental Clinic sering menangani kasus seperti ini. Melalui perawatan pulpotomi, penambalan estetik anak, atau perawatan saluran akar gigi susu, dokter berhasil mempertahankan ruang gigi agar gigi tetap tumbuh sejajar.
Cara Mudah Membedakan Gigi Susu dan Permanen di Rumah
Kamu bisa memperhatikan beberapa tanda sederhana berikut:
- Warna gigi: Gigi susu lebih putih kebiruan, gigi permanen sedikit kekuningan.
- Ukuran: Gigi permanen lebih besar dan menonjol di antara gigi susu.
- Permukaan: Gigi permanen terasa lebih tebal dan rata.
- Pergantian: Jika satu gigi tanggal dan diikuti tumbuh gigi baru di tempat yang sama, kemungkinan besar itu gigi permanen.
Namun, jika kamu ragu, dokter di Sozo Dental Clinic Jakarta dapat membantu menjelaskan secara langsung dan memperlihatkan perbandingannya pada gigi anak. Pemeriksaan ini cepat, tidak sakit, dan bisa dilakukan bersamaan dengan kontrol rutin.
Baca Juga: Bagian-Bagian Gigi: Enamel, Dentin, Sementum, Pulpa & Fungsinya
Pentingnya Pemeriksaan Rutin Gigi Anak
Pemeriksaan gigi anak sebaiknya dilakukan setiap 6 bulan sekali sejak gigi pertama tumbuh. Tujuannya untuk memastikan gigi susu sehat dan siap digantikan oleh gigi permanen.
Di Sozo Dental Clinic, pemeriksaan dilakukan oleh dokter gigi anak berpengalaman yang sabar menghadapi berbagai karakter anak. Klinik ini juga memiliki ruang perawatan anak bertema playful, yang membuat anak lebih nyaman.
Selain itu, Sozo Dental menyediakan:
- Fluoride treatment untuk memperkuat email gigi susu.
- Dental sealant untuk mencegah karies pada gigi permanen muda.
- Konsultasi gigi tumbuh agar kamu tahu tahap pertumbuhan gigi anak sesuai usianya.
Kalau kamu ingin tahu lebih jelas perbedaan gigi susu dan gigi permanen anak, atau ingin memastikan proses pergantiannya berjalan normal, segera jadwalkan pemeriksaan di Sozo Dental Clinic Jakarta.
Kamu bisa booking janji secara online dengan klik banner dibawah ini atau datang langsung ke klinik. Jangan tunggu sampai gigi anak bermasalah — lakukan pemeriksaan sejak dini agar senyum si kecil tetap sehat dan ceria.

Referensi Jurnal
- Tingkat Risiko Karies Gigi Permanen Anak-Anak Taman Kanak-Kanak (2018). Jurnal Kesehatan Gigi, Poltekkes Palembang.
- Hubungan Pemberian Susu Formula dengan Karies Gigi pada Anak (2020). Jurnal Kesehatan Gigi, STIKES Gunung Sari Makassar.
- Primary and Mixed Dentition, Post-eruptive Enamel Defects (2020). Community Dentistry and Oral Epidemiology.
- Enamel Demineralization in Primary and Permanent Teeth (2003). Wang LJ, dkk. Caries Research.
- First Dental Visit: Age, Reasons, Oral Health Status and Dental Treatment Needs among Children (2022). Padung N, dkk. International Journal of Clinical Pediatric Dentistry.





