

Pertanyaan sikat gigi saat puasa hampir selalu muncul menjelang Ramadan, terutama di kalangan pekerja kantoran dan pelajar. Banyak pengamatan klinis menunjukkan keluhan mulut kering dan bau napas cenderung meningkat ketika orang berpuasa lebih dari 8–10 jam tanpa makan dan minum.
Di sisi lain, sebagian orang khawatir sikat gigi bisa membuat puasa batal, sehingga akhirnya membiarkan mulut tetap tidak nyaman sepanjang hari. Seorang karyawan muda yang berkunjung ke Sozo Dental Clinic bercerita bahwa ia sengaja menghindari sikat gigi menjelang jam kerja saat puasa, lalu justru merasa minder setiap kali harus rapat atau berbicara dekat dengan rekan kerja.
Artikel ini membahas apa yang sebenarnya terjadi di mulut saat puasa, batas wajar menyikat gigi menurut beberapa pandangan fikih, serta trik simpel menyikat gigi sebelum Subuh, setelah berbuka, dan bilas ringan di siang hari.

Saat puasa, produksi air liur cenderung menurun karena tidak ada rangsangan makan dan minum dalam jangka waktu lama. Air liur sebenarnya berfungsi membantu membersihkan sisa makanan dan menekan pertumbuhan bakteri di rongga mulut.
Ketika produksi air liur turun, mulut menjadi lebih kering dan bakteri lebih mudah berkembang biak. Akibatnya, sisa makanan, sel-sel mati, dan plak yang menempel di gigi dan lidah bisa memicu bau napas yang mengganggu.
Mulut kering juga membuat lidah tampak lebih berlapis dan terasa tidak segar. Karena itu, menjaga kebersihan mulut sebelum dan setelah waktu puasa sangat penting, bukan hanya untuk bau napas tetapi juga untuk kesehatan gigi dan gusi secara keseluruhan.
Napas yang tetap bau meski kamu sudah rajin sikat gigi sebelum sahur dan malam hari sering berkaitan dengan faktor lain di rongga mulut. Penumpukan karang gigi dan radang gusi adalah dua penyebab yang cukup sering ditemukan.
Karang gigi terbentuk dari plak yang mengeras dan menempel kuat di permukaan gigi, terutama di dekat garis gusi. Jika dibiarkan, karang gigi menjadi tempat berkumpulnya bakteri yang menghasilkan senyawa berbau tidak sedap.
Gusi yang meradang bisa tampak bengkak, kemerahan, dan mudah berdarah saat disikat. Ketika kamu menambah frekuensi sikat gigi di bulan puasa, gusi yang sudah sensitif ini bisa berdarah lebih sering dan membuat kamu semakin ragu untuk membersihkan gigi dengan benar.
Baca Juga: Dijamin Ampuh, Ini Cara Mengatasi Bau Mulut yang Efektif
Bau mulut saat puasa merupakan kondisi yang cukup sering dialami, bahkan pada orang yang sehari-hari sudah menjaga kebersihan gigi. Faktor mulut kering, berkurangnya air liur, dan perubahan pola makan selama puasa ikut berperan dalam hal ini.
Selain itu, pilihan makanan dan minuman saat sahur dan berbuka juga memengaruhi aroma napas. Makanan dengan bau tajam, terlalu banyak gula, atau minuman berkafein bisa membuat mulut terasa lebih kering dan memicu bau napas yang bertahan lebih lama.
Hal ini tidak berarti kebersihan dirimu buruk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kamu membutuhkan strategi yang lebih spesifik untuk menghadapi perubahan alami di mulut saat puasa, termasuk mengatur waktu dan cara menyikat gigi secara lebih cermat.
Banyak ulama sepakat bahwa menjaga kebersihan mulut adalah hal yang baik, termasuk di bulan Ramadan. Membersihkan mulut dengan siwak atau alat yang serupa dianggap sebagai bagian dari sunnah dalam menjaga kebersihan diri.
Dalam pembahasan fikih, menyikat gigi saat puasa pada dasarnya diperbolehkan selama tidak ada air, pasta, atau benda lain yang sengaja ditelan. Fokus utamanya adalah kehati-hatian agar tidak ada sesuatu yang masuk ke tenggorokan dan berpotensi membatalkan puasa.
Beberapa pendapat menyebutkan bahwa menyikat gigi setelah tergelincir matahari atau setelah waktu Zuhur bisa dihukumi makruh. Pandangan ini biasanya dimaknai sebagai bentuk anjuran untuk menghindari hal-hal yang dikhawatirkan mendekati pembatalan puasa, bukan larangan mutlak.
Dari berbagai penjelasan tersebut, kamu bisa menarik beberapa prinsip praktis. Prinsip ini tidak menggantikan panduan ulama atau ustaz yang kamu ikuti, tetapi bisa membantu kamu merasa lebih tenang saat menyikat gigi di bulan puasa.
Kamu bisa menyesuaikan kebiasaan dengan pandangan yang paling sesuai dengan ajaran yang kamu yakini. Intinya, tetap mengutamakan kehati-hatian sehingga ibadah puasa terasa lebih tenang tanpa harus mengorbankan kebersihan mulut.
Salah satu pendekatan yang cukup sering dipilih adalah fokus sikat gigi saat puasa pada waktu sebelum Subuh dan setelah berbuka. Pada dua waktu ini, kamu tidak sedang menahan makan dan minum, sehingga bisa membersihkan gigi lebih menyeluruh dengan rasa khawatir yang minimal.
Di siang hari, kamu bisa mengandalkan bilas ringan untuk membantu menyegarkan mulut. Tujuannya adalah mengurangi rasa kering dan mengangkat sedikit sisa kotoran tanpa mengandalkan sikat gigi penuh di tengah hari.
Sebelum Subuh adalah momen yang sangat strategis untuk membersihkan mulut secara menyeluruh. Kamu bisa menyikat gigi, membersihkan lidah, dan menggunakan benang gigi untuk mengangkat sisa makanan di sela gigi.
Setelah menyikat gigi, minum air putih yang cukup saat sahur membantu menjaga kelembapan mulut lebih lama. Dengan begitu, rasa kering dan bau napas yang mengganggu di jam-jam awal puasa dapat sedikit berkurang.
Setelah berbuka dan makan malam, sikat gigi kembali sebelum tidur. Langkah ini penting supaya sisa makanan dan gula tidak menempel sepanjang malam dan berubah menjadi plak yang sulit dibersihkan.
Jika kamu menambahkan pemeriksaan gigi dan scaling sebelum Ramadan, rutinitas ini akan makin efektif. Gigi yang sudah bersih dari karang dan gusi yang sehat akan lebih mudah dirawat sepanjang bulan puasa.
Ketika mulut terasa sangat kering di siang hari, kamu bisa berkumur ringan tanpa berlebihan. Isilah mulut dengan sedikit air, kumur sebentar, lalu segera meludah tanpa menahan air terlalu lama.
Bilas ringan membantu menyegarkan mulut dan mengurangi rasa kering, tanpa harus selalu menyikat gigi di tengah hari. Kamu bisa menyesuaikan kebiasaan ini dengan pandangan fikih yang kamu ikuti dan tingkat kenyamanan pribadi.
Baca Juga: Apakah Boleh Sikat Gigi saat Puasa di Siang Hari? Ini Jawabannya
Pemilihan sikat gigi yang tepat sangat berpengaruh pada kenyamanan, terutama jika gusi kamu sensitif. Sikat dengan bulu terlalu keras bisa membuat gusi mudah teriritasi dan berdarah.
Untuk bulan puasa, sebaiknya gunakan sikat gigi dengan bulu lembut dan kepala yang tidak terlalu besar. Pilihan ini memudahkan kamu menjangkau area belakang tanpa harus menekan sikat terlalu kuat.
Banyak pasien yang beralih ke sikat gigi berbulu lembut merasa gusi mereka jauh lebih nyaman. Hal ini membantu mereka tetap disiplin menyikat gigi lebih sering di bulan puasa tanpa khawatir gusi semakin perih.
Pasta gigi yang kamu gunakan juga perlu disesuaikan di bulan puasa. Pasta dengan busa berlebihan kadang membuat kamu kesulitan mengontrol air dan busa di mulut sehingga perlu berkumur berkali-kali.
Untuk Ramadan, kamu bisa memilih pasta gigi berfluoride dengan busa yang tidak terlalu banyak. Rasa yang tidak terlalu tajam juga dapat membantu mengurangi keinginan berkumur berulang-ulang.
Dengan pasta yang lebih lembut dan tidak terlalu berbusa, kamu dapat menjalankan sikat gigi saat puasa dengan lebih tenang. Kamu tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk berkumur, sehingga risiko air tertelan pun bisa lebih mudah dihindari.
Sozo Dental Clinic menyediakan beberapa layanan yang relevan untuk persiapan puasa. Pemeriksaan dan konsultasi gigi membantu menilai kondisi gigi, gusi, dan kebiasaan harianmu dalam merawat mulut.
Scaling atau pembersihan karang gigi membantu mengangkat plak dan karang yang menumpuk di garis gusi. Dengan demikian, risiko radang gusi dan bau mulut berlebihan di bulan puasa bisa berkurang.
Kamu bisa mulai dengan menjadwalkan pemeriksaan di cabang Sozo Dental Clinic terdekat, lalu mendiskusikan rencana perawatan yang paling sesuai dengan kondisimu. Dengan persiapan yang baik, rutinitas sikat gigi saat puasa bisa terasa jauh lebih aman, dan kamu bisa fokus menjalankan ibadah dengan mulut yang lebih bersih dan napas yang lebih terkontrol.
