

Gigi bungsu seringkali tumbuh di usia remaja akhir hingga dewasa muda, namun tidak jarang pertumbuhannya terhambat hingga menyebabkan impaksi. Impaksi gigi bungsu merupakan kondisi ketika gigi gagal tumbuh secara sempurna karena terhalang oleh gigi di depannya, tulang rahang, atau jaringan gusi. Berdasarkan data medis, mayoritas kasus impaksi terjadi akibat rahang yang tidak memiliki ruang cukup luas untuk menampung pertumbuhan gigi terakhir tersebut.
Kamu ingin tahu lebih dalam tentang impaksi gigi bungsu dan tanda-tandanya? Temukan penjelasan lengkap, tips penting, serta cara pencegahan di artikel ini. Jangan lewatkan informasi praktis yang bisa membantu kamu menjaga kesehatan gigi lebih baik, lanjutkan membaca dan dapatkan solusi yang sudah terbukti efektif untuk keluhan impaksi!

Impaksi gigi bungsu terjadi ketika gigi molar ketiga tidak tumbuh sempurna ke arah permukaan gusi. Kondisi ini muncul karena ruang pada rahang tidak cukup untuk menampung pertumbuhan gigi baru. Akibatnya, gigi bungsu gagal erupsi sepenuhnya dan tetap terperangkap di dalam jaringan gusi atau tulang rahang.
Menurut survei American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons, sekitar 65–75% orang dewasa berusia 18–35 tahun mengalami setidaknya satu impaksi gigi bungsu. Di Indonesia, kasus ini juga sering ditemukan karena struktur rahang banyak orang cenderung lebih kecil dibanding ukuran giginya.
Impaksi bukan hanya masalah estetika, tetapi juga dapat memicu nyeri, infeksi, bahkan memengaruhi kesehatan gigi lain di sekitarnya.
Gigi bungsu biasanya tumbuh paling akhir, sekitar usia 17–25 tahun. Pada saat itu, semua gigi permanen sudah berkembang penuh, sehingga ruang untuk tumbuh terbatas Beberapa faktor penyebab impaksi antara lain:
Kondisi ini dapat muncul tanpa gejala pada awalnya, namun seiring waktu bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri, atau pembengkakan pada rahang.
Gigi bungsu yang terimpaksi diklasifikasikan berdasarkan arah pertumbuhannya terhadap gigi di depannya. Berikut jenis-jenis utama impaksi gigi bungsu yang sering ditemukan di klinik:
Impaksi mesioangular adalah jenis impaksi gigi bungsu yang paling sering terjadi. Pada kondisi ini, gigi bungsu tumbuh dengan arah miring ke depan, menekan gigi geraham kedua di depannya. Tekanan ini bisa menyebabkan rasa nyeri, kerusakan gigi tetangga, dan penumpukan sisa makanan yang sulit dibersihkan.
Menurut hasil penelitian International Journal of Dental Research, lebih dari 40% kasus impaksi gigi bungsu termasuk tipe mesioangular, terutama pada rahang bawah. Kasus ini sering memerlukan pencabutan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Gigi bungsu yang tumbuh miring ke depan bisa tampak sebagian di permukaan gusi, tetapi tertanam sebagian di tulang. Akibatnya, terjadi tekanan berulang pada gigi sebelahnya, menimbulkan iritasi dan nyeri. Beberapa tanda umum yang perlu diperhatikan:
Jika gejala ini tidak segera ditangani, peradangan bisa menjalar hingga ke jaringan sekitar atau menimbulkan infeksi gusi.
Impaksi mesioangular dapat memengaruhi struktur gigi di sekitarnya. Tekanan dari gigi bungsu miring bisa merusak enamel dan menyebabkan karies di bagian belakang gigi geraham kedua. Kondisi ini juga meningkatkan risiko infeksi dan abses jika sisa makanan terus terjebak di bawah gusi. Komplikasi lain yang mungkin terjadi meliputi:
Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dengan rontgen panoramik sangat disarankan agar posisi gigi bungsu dapat dipantau sejak dini.
Impaksi distoangular adalah kondisi gigi bungsu yang tumbuh miring ke arah belakang, menjauhi gigi geraham kedua. Posisi ini tergolong jarang ditemukan dibanding jenis impaksi lain, namun memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dalam pencabutan karena arah pertumbuhan dan letak akar yang tidak menguntungkan.
Studi dari Journal of Oral and Maxillofacial Surgery menunjukkan hanya sekitar 6–10% kasus impaksi gigi bungsu termasuk tipe distoangular, tetapi risikonya terhadap kerusakan jaringan di belakang rahang cukup besar.
Posisi gigi yang mengarah ke belakang membuat sebagian besar tertutup jaringan gusi atau tulang, sehingga sulit terlihat langsung. Gejalanya sering muncul secara bertahap. Beberapa tanda umum yang perlu kamu perhatikan:
Karena letaknya yang dalam, impaksi distoangular sering terdeteksi hanya melalui pemeriksaan radiografi panoramik.
Jenis impaksi ini berisiko menyebabkan kerusakan jaringan di bagian belakang rahang dan memicu rasa nyeri yang sulit dihilangkan dengan obat biasa. Posisi akar yang dekat dengan saraf mandibula juga membuat pencabutan lebih kompleks. Kemungkinan komplikasi meliputi:
Penanganan cepat oleh dokter gigi berpengalaman penting untuk mencegah kerusakan permanen pada struktur sekitar.
Impaksi horizontal adalah salah satu jenis impaksi gigi bungsu yang paling problematik karena arah pertumbuhannya sejajar atau mendatar terhadap gigi di depannya. Pada kasus ini, gigi bungsu tidak tumbuh ke atas seperti normal, melainkan menekan bagian akar gigi geraham kedua. Akibatnya, gigi tersebut dapat menimbulkan nyeri, merusak struktur gigi sekitar, dan dalam banyak kasus memerlukan tindakan bedah.
Jenis impaksi ini sering menimbulkan rasa tidak nyaman yang signifikan karena tekanan terus-menerus pada gigi di depannya. Bahkan tanpa terlihat di permukaan gusi, tekanan dari arah mendatar dapat memicu berbagai keluhan. Beberapa gejala yang sering muncul antara lain:
Jika dibiarkan, impaksi horizontal dapat menyebabkan resorpsi akar gigi geraham kedua, yaitu kondisi di mana akar gigi mulai terkikis akibat tekanan dari gigi bungsu yang mendatar.
Karena posisinya mendatar dan tertanam kuat di dalam tulang rahang, impaksi horizontal memiliki tingkat risiko komplikasi yang tinggi. Beberapa di antaranya meliputi:
Impaksi vertikal terjadi ketika gigi bungsu tumbuh dengan arah tegak lurus seperti gigi normal, tetapi terhalang untuk erupsi sepenuhnya karena kurangnya ruang pada lengkung rahang. Kondisi ini membuat gigi tetap tertutup sebagian atau seluruhnya oleh gusi atau tulang, sehingga dapat memicu ketidaknyamanan dan masalah gigi lainnya.
Posisinya yang tegak lurus membuat tandanya kadang kurang jelas, namun beberapa gejala berikut bisa diidentifikasi:
Meski terlihat kurang berisiko dibanding jenis impaksi lain, impaksi vertikal tetap dapat menyebabkan komplikasi bila gigi tidak memiliki ruang yang cukup untuk erupsi. Beberapa risiko yang mungkin terjadi:
Klasifikasi impaksi gigi bungsu tidak hanya ditentukan dari arah pertumbuhannya, tetapi juga dari jenis jaringan yang menutupi gigi. Secara umum, dokter membedakannya menjadi dua kategori utama, yaitu impaksi jaringan lunak dan impaksi tulang. Pemahaman terhadap perbedaan ini penting untuk menentukan tindakan perawatan terbaik serta memperkirakan tingkat kesulitan dalam pencabutan.
Impaksi jaringan lunak terjadi ketika gigi bungsu sudah sebagian menembus permukaan gusi, namun masih tertutup sebagian oleh jaringan lunak. Artinya, bagian mahkota gigi terlihat, tetapi belum tumbuh sempurna.
Kondisi ini termasuk yang paling sering ditemukan pada usia 18–25 tahun karena proses erupsi gigi belum selesai sepenuhnya.
Ciri khas impaksi jaringan lunak:
Impaksi jaringan lunak rentan menimbulkan infeksi gusi (perikoronitis) jika kebersihan mulut tidak terjaga dengan baik. Pada tahap awal, dokter bisa melakukan pembersihan mendalam atau pengawasan rutin. Namun jika gigi tidak dapat tumbuh sempurna, pencabutan menjadi pilihan terbaik.
Berbeda dengan impaksi jaringan lunak, impaksi tulang terjadi ketika gigi bungsu masih tertutup sebagian atau seluruhnya oleh tulang rahang. Akibatnya, gigi tidak tampak di permukaan gusi sama sekali dan tidak dapat erupsi tanpa tindakan medis.
Impaksi tulang terbagi menjadi dua jenis:
Tanda-tanda impaksi tulang meliputi:
Impaksi gigi bungsu dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan mulut yang sering kali muncul secara bertahap. Kemunculan gejala ini sangat penting diwaspadai agar penanganan bisa dilakukan sebelum komplikasi serius terjadi. Berikut tanda-tanda yang perlu kamu perhatikan:
Mengenali waktu yang tepat untuk ke dokter sangat penting agar impaksi gigi bungsu tidak berkembang menjadi masalah serius. Tidak semua kasus memerlukan tindakan segera, namun jika muncul gejala tertentu, kamu wajib segera konsultasi. Beberapa kondisi yang menjadi tanda harus ke dokter gigi:
Jika rasa nyeri, bengkak, atau infeksi tidak segera membaik dengan perawatan sederhana, dokter akan melakukan pemeriksaan radiografi, menentukan posisi impaksi, dan menyarankan pencabutan bila diperlukan.
Pemeriksaan rutin setiap 6 bulan juga sangat dianjurkan, bahkan jika belum muncul gejala. Ini penting agar kondisi gigi bungsu bisa dipantau sejak dini sebelum terjadi komplikasi serius. Sozo Dental menyediakan evaluasi lengkap mulai dari pemeriksaan, diagnosis, hingga penanganan nyaman dan minim trauma, sehingga setiap pasien bisa mendapatkan solusi terbaik dan hasil optimal.
Sozo Dental dikenal sebagai klinik pilihan untuk menangani impaksi gigi bungsu dengan layanan profesional dan hasil maksimal. Klinik ini menggunakan teknologi radiografi digital 3D dan instrumen mikro bedah modern, sehingga diagnosis dan tindakan pencabutan lebih presisi, aman, dan minim rasa sakit. Keunggulan utama yang bisa kamu dapatkan di Sozo Dental:
Dengan keunggulan di atas, Sozo Dental menawarkan nilai lebih dibandingkan klinik lain. Pasien tidak hanya mendapatkan perawatan aman dan efektif, tetapi juga pengalaman nyaman setiap tahap perawatan, didukung dokter yang sabar dan komunikatif, serta hasil estetis yang memuaskan.
Dengan perawatan dari tim profesional Sozo Dental, proses pencabutan akan jauh lebih nyaman, cepat, dan minim rasa sakit. Kini saatnya kamu mengatasi impaksi gigi bungsu dengan aman dan percaya diri bersama Sozo Dental.
