Teether bayi sering menjadi “penyelamat kecil” saat gusi bayi mulai gatal dan ia ingin menggigit apa saja di sekitarnya. Berbagai panduan kesehatan anak menyebut teething ring atau teether yang dipilih dengan bahan, bentuk, dan cara pakai yang tepat dapat membantu meredakan tidak nyaman di gusi tanpa mengganggu proses tumbuh gigi. Banyak orang tua merasa lebih tenang setelah memahami cara memilih teether yang aman, cara membersihkannya, dan memastikan bentuk gigi anak tetap rapi melalui kontrol rutin ke dokter gigi anak.
Untuk mengetahui apakah teether bayi aman untuk gusi dan gigi yang baru tumbuh serta bagaimana cara menggunakannya dengan bijak, artikel ini bisa dibaca sampai selesai.
Fungsi Teether Bayi
Saat gigi bayi mulai tumbuh, teether bukan hanya “mainan gigitan”, tetapi punya beberapa fungsi penting untuk gusi, gigi, dan perkembangan mulut secara keseluruhan. Penjelasan berikut merinci Fungsi Teether Bayi dengan lebih terstruktur dan praktis untuk orang tua.
Fungsi Teether Bayi
Teether membantu bayi melewati fase tumbuh gigi dengan lebih nyaman, sekaligus mendukung perkembangan mulut dan kebiasaan baik sejak dini. Berikut fungsi utamanya yang perlu kamu tahu.
1. Meredakan Rasa Gatal dan Tidak Nyaman di Gusi
Saat gigi akan muncul, gusi biasanya tampak sedikit bengkak dan terasa gatal atau tidak nyaman bagi bayi.
Fungsi teether di fase ini:
Memberi tekanan lembut pada gusi, sehingga rasa gatal dan “ngilu” tersalurkan.
Mengurangi keinginan bayi menggigit benda sembarangan, seperti remote, pinggiran meja, atau mainan yang tidak aman.
Membantu bayi merasa lebih tenang, sehingga rewel karena gusi gatal bisa sedikit berkurang.
Teether yang permukaannya lembut dan elastis sangat membantu untuk fungsi ini.
2. Menyalurkan Dorongan Menggigit ke Media yang Lebih Aman
Bayi secara alami akan memasukkan tangan atau benda ke mulut ketika gusinya terasa tidak nyaman.
Teether berfungsi untuk:
Menjadi “target gigitan” yang dirancang khusus, sehingga lebih aman dibanding benda keras atau kotor.
Mengurangi risiko bayi menggigit benda tajam atau yang mudah hancur dan tertelan.
Membantu orang tua mengarahkan kebiasaan menggigit ke sesuatu yang bisa dibersihkan dan dipantau.
Dengan begitu, dorongan alami bayi untuk menggigit tetap tersalurkan, tetapi dalam batas aman.
3. Menstimulasi Gusi dan Jaringan Mulut Secara Lembut
Tekanan dari gigitan pada teether memberikan stimulasi ke gusi dan jaringan lunak di mulut.
Manfaat stimulasi ini:
Membantu memperlancar proses “jalan” gigi yang akan menembus gusi.
Membuat bayi terbiasa dengan sensasi benda di mulut, sebagai persiapan menuju makan makanan padat.
Membantu meningkatkan kesadaran bayi terhadap area mulut, lidah, dan gusi.
Stimulasi yang lembut dan terkontrol lebih baik dibandingkan tekanan berlebihan dari benda terlalu keras.
4. Melatih Koordinasi Tangan–Mulut (Motorik Halus dan Oral)
Mengambil teether, memasukkannya ke mulut, lalu menggigit, melibatkan koordinasi beberapa gerakan sekaligus.
Teether berperan dalam:
Melatih bayi untuk meraih, menggenggam, dan mengarahkan benda ke mulut dengan lebih tepat.
Mengembangkan kemampuan motorik halus tangan dan koordinasi mata–tangan.
Membiasakan bayi mengenal berbagai bentuk dan tekstur melalui kombinasi sentuhan dan rasa di mulut.
Teether dengan pegangan yang mudah digenggam akan sangat membantu fungsi ini.
5. Membantu Menenangkan Bayi Tanpa Harus Selalu Mengandalkan Dot atau Menyusu
Pada beberapa bayi, teether dapat menjadi salah satu cara menenangkan diri.
Fungsi ini terlihat ketika:
Bayi tampak lebih tenang saat memegang dan menggigit teether, terutama ketika rewel karena gusi gatal.
Orang tua bisa mengurangi ketergantungan pada dot atau menyusu hanya untuk menenangkan, bukan untuk kebutuhan nutrisi.
Dengan catatan, penggunaan teether tetap dipantau dan tidak dibiarkan terus-menerus sepanjang hari.
6. Membantu Orang Tua Mengamati Area Gusi dan Gigi
Saat bayi menggunakan teether, orang tua punya kesempatan melihat lebih jelas bagian dalam mulut.
Fungsi teether sebagai “momen observasi”:
Saat bayi membuka mulut untuk menggigit, kamu bisa melihat apakah ada gigi yang baru tumbuh, gusi yang tampak sangat merah, atau bagian yang tampak tidak biasa.
Membantu mengenali lebih dini jika ada luka kecil, sariawan, atau area yang tampak sangat bengkak.
Dengan begitu, teether sekaligus menjadi “pengingat” untuk rutin mengecek kondisi gusi dan gigi bayi.
7. Membantu Transisi ke Makanan Padat Secara Lebih Bertahap
Bayi yang terbiasa menggigit teether biasanya lebih siap menghadapi tekstur makanan yang lebih padat.
Hubungan teether dan transisi makan:
Otot rahang sudah lebih terlatih untuk menggigit dan mengunyah ketika saatnya MPASI dengan tekstur lebih kasar.
Bayi terbiasa menggerakkan rahang dan lidah untuk menangani sesuatu yang bukan hanya cairan.
Membantu mengurangi kaget saat pertama kali bertemu tekstur makanan yang perlu dikunyah ringan.
Tentu saja, ini bukan satu-satunya faktor, tetapi teether bisa menjadi bagian kecil yang mendukung proses tersebut.
8. Mengurangi Risiko Menggigit Benda Tidak Aman di Lingkungan
Tanpa teether, bayi sering mencari apapun di sekitar sebagai “alat gigit”.
Peran protektif teether:
Mengalihkan perhatian bayi dari kabel, sudut furnitur, mainan kecil, atau benda kotor di lantai.
Memberi orang tua pilihan yang lebih higienis karena teether bisa dibersihkan dan disterilkan.
Membantu menciptakan kebiasaan, bahwa jika ingin menggigit, benda yang diambil adalah teether, bukan sembarang objek.
Dengan kata lain, teether menjadi alat bantu manajemen lingkungan, bukan hanya pengganti “gigitan acak”.
9. Membantu Orang Tua Mengenali Pola Tumbuh Gigi Anak
Frekuensi dan cara bayi menggunakan teether kadang memberikan clue tentang fase tumbuh gigi yang sedang berlangsung.
Contohnya:
Ketika bayi lebih sering menggigit bagian teether tertentu, bisa jadi ada gigi yang akan tumbuh di area rahang itu.
Jika tiba-tiba bayi tidak mau menggigit sama sekali dan tampak sangat kesakitan, mungkin ada hal lain seperti infeksi atau sariawan yang perlu diperiksa.
Informasi ini membantu menentukan kapan perlu konsultasi lebih lanjut dengan dokter gigi anak.
Apakah Teether Bayi Aman Untuk Gusi dan Gigi yang Baru Tumbuh?
Secara umum, teether bayi yang memenuhi standar keamanan dan digunakan dengan cara yang benar dianggap aman untuk gusi dan gigi yang baru tumbuh. Kuncinya ada pada pemilihan material, bentuk, tingkat kekerasan, dan kebersihan.
Hal yang perlu diperhatikan:
Permukaan teether sebaiknya cukup lembut untuk tidak melukai gusi, tetapi cukup firm untuk memberi tekanan lega.
Ukuran harus cukup besar sehingga tidak berisiko tertelan atau tersedak.
Teether tidak boleh mudah rusak, retak, atau terkelupas saat digigit. Jika rusak, sebaiknya segera diganti.
Memilih Bahan Teether yang Aman
Bahan adalah salah satu faktor terpenting dalam memilih teether bayi. Bahan yang tepat membantu mengurangi risiko paparan zat berbahaya atau cedera pada gusi. Adapun bahan yang umumnya dianggap lebih aman:
Silicone food-grade, bebas BPA, ftalat, dan bahan kimia berbahaya. Teether silikon banyak direkomendasikan karena lembut, fleksibel, dan mudah dibersihkan.
Karet alami (natural rubber) yang bebas tambahan kimia sintetis. Pastikan berasal dari produsen terpercaya.
Kayu yang halus, food-grade, tanpa serpihan dan dilapisi bahan aman untuk bayi. Biasanya lebih keras, sehingga pemakaian perlu dipantau lebih ketat.
Hal yang sebaiknya dihindari:
Teether dengan bahan plastik yang tidak jelas, berbau tajam, atau tidak memiliki keterangan bebas BPA.
Teether berisi gel atau cairan yang mudah bocor saat tergigit.
Memilih Bentuk dan Tekstur Teether yang Tepat
Selain bahan, bentuk dan tekstur teether juga berpengaruh pada kenyamanan dan keamanan.
Tips memilih bentuk dan tekstur:
Pilih ukuran yang mudah digenggam tangan bayi, tetapi cukup besar agar tidak berisiko masuk seluruhnya ke mulut.
Bentuk ring, karakter sederhana, atau bentuk yang bisa mencapai area gigi belakang sering disukai bayi.
Tekstur bintik atau garis lembut di permukaan membantu memijat gusi. Hindari tekstur terlalu tajam atau keras.
Pastikan tidak ada bagian kecil yang bisa copot, seperti manik-manik kecil yang berpotensi menjadi benda asing di saluran napas.
Batas Penggunaan Teether Dalam Sehari
Secara umum, teether tidak memiliki “jam pakai resmi” yang kaku. Namun, penggunaan yang wajar perlu dijaga.
Panduan sederhana:
Teether boleh digunakan beberapa kali sehari saat bayi tampak gelisah atau ingin menggigit sesuatu karena gusi gatal.
Setiap sesi bisa berlangsung beberapa menit, lalu dialihkan ke aktivitas lain seperti menggendong, menyusu, atau bermain.
Hindari memberikan teether terus-menerus sepanjang hari hingga bayi tampak “tidak mau lepas” dari teether.
Jika bayi tampak menggigit dengan sangat kuat atau tampak kesakitan, sebaiknya hentikan sementara dan amati kondisi gusinya.
Cara Membersihkan Teether Agar Tidak Jadi Sarang Kuman
Teether bayi sering jatuh ke lantai, terkena air liur, atau tersentuh berbagai permukaan. Karena itu, kebersihan sangat penting.
Cara membersihkan teether:
Cuci teether baru sebelum pertama kali digunakan, meski terlihat bersih.
Untuk teether silikon atau karet: cuci dengan air hangat dan sabun lembut, lalu bilas hingga bersih dan keringkan di tempat yang bersih.
Beberapa teether boleh direbus atau disterilkan dengan uap, tetapi selalu cek petunjuk produsen terlebih dahulu.
Kebiasaan yang baik:
Bersihkan teether setiap kali selesai dipakai lama atau jika jatuh ke lantai.
Lakukan pembersihan lebih menyeluruh secara berkala, misalnya dengan sterilisasi yang sesuai bahan.
Cara Menyimpan Teether Agar Tetap Higienis
Setelah dibersihkan, cara menyimpan teether memengaruhi tingkat kebersihannya.
Tips penyimpanan:
Simpan di wadah kering dan tertutup, bukan diletakkan sembarang di permukaan yang penuh debu.
Hindari menyimpan teether di tempat lembap yang mudah berjamur, misalnya dalam plastik tertutup yang masih basah.
Periksa teether secara berkala. Jika ada perubahan warna, bau tidak sedap, atau retakan, sebaiknya diganti.
Kebersihan teether membantu menjaga kesehatan mulut dan pencernaan bayi, karena hampir semua benda akan masuk ke mulut di fase ini.
Apakah Teether Bisa Memengaruhi Bentuk Gigi Anak?
Pertanyaan ini cukup sering muncul. Secara umum, teether bayi yang lembut, berukuran tepat, dan dipakai wajar tidak terbukti mengganggu arah tumbuh gigi.
Hal yang perlu diingat:
Gigi dapat terganggu bentuknya jika ada tekanan kuat dan terus-menerus dalam jangka panjang, misalnya kebiasaan mengisap jempol yang intens hingga usia lebih besar.
Teether yang terlalu keras dan dipakai berlebihan, terutama saat gigi sudah cukup banyak, secara teori dapat memberi tekanan berlebih jika bayi menggigit sangat kuat.
Kalau kamu ragu apakah teether memengaruhi bentuk gigi anak, bisa konsultasi ke dokter gigi anak di Sozo Dental Clinic untuk mendapatkan saran yang lebih personal. Pemeriksaan langsung akan membantu melihat apakah susunan gigi dan rahang berkembang normal.
Kapan Sebaiknya Mengajak Bayi ke Dokter Gigi Terkait Teether dan Tumbuh Gigi?
Organisasi kedokteran gigi anak di berbagai negara umumnya menyarankan kunjungan pertama ke dokter gigi dilakukan saat gigi pertama tumbuh atau sekitar usia satu tahun.
Kunjungan ini bermanfaat untuk:
Mengevaluasi pola tumbuh gigi dan kondisi gusi.
Mendiskusikan kebiasaan mengisap, penggunaan teether, dan kebiasaan makan yang dapat memengaruhi gigi susu.
Memberi panduan cara membersihkan gigi dan gusi bayi di rumah.
Peran Sozo Dental Dalam Mendukung Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini
Sozo Dental menyediakan layanan dokter gigi anak yang berfokus pada kenyamanan dan edukasi orang tua. Fokusnya bukan hanya mengobati, tetapi juga mencegah masalah sejak awal.
Layanan yang relevan:
Pemeriksaan pertama gigi dan gusi bayi untuk memantau pola tumbuh gigi.
Konsultasi mengenai penggunaan teether, dot, kebiasaan mengisap, dan pola makan yang aman untuk gigi susu.
Edukasi cara membersihkan gigi dan gusi anak sesuai usia, dengan penjelasan praktis yang mudah untuk rutinitas di rumah.
Keunggulan Pendekatan Sozo Dental Dibanding Hanya Mengandalkan Informasi Produk
Informasi tentang teether bayi di kemasan produk sering singkat dan fokus pada penjualan. Pendekatan di Sozo Dental lebih menyeluruh dan personal.
Keunggulan yang bisa dirasakan:
Penjelasan berdasarkan kondisi gigi dan gusi anak kamu sendiri, bukan sekadar panduan umum.
Saran teether dan kebiasaan harian yang disesuaikan dengan usia, pola tumbuh gigi, dan kebiasaan mengisap anak.
Pendampingan jangka panjang, sehingga jika ada perubahan bentuk gigi atau rahang, bisa dideteksi sejak dini.
Kebiasaan Sehari-Hari yang Membantu Menjaga Gigi Bayi Selain Menggunakan Teether
Teether hanyalah salah satu alat bantu. Kebiasaan harian tetap memegang peran utama dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi bayi.
Kebiasaan yang bisa dibangun:
Membersihkan gusi bayi dengan kain lembut basah sebelum semua gigi tumbuh, lalu beralih ke sikat gigi bayi saat gigi mulai muncul.
Mengontrol pemberian makanan dan minuman manis, terutama menjelang tidur.
Menghindari kebiasaan membiarkan bayi tertidur sambil mengisap botol berisi susu manis dalam waktu lama.
Teether bayi bisa menjadi alat bantu yang bermanfaat untuk mengurangi rasa gatal dan tidak nyaman di gusi, selama dipilih dengan bahan yang aman, bentuk yang tepat, dan dirawat dengan bersih. Penggunaan yang wajar dan disertai pemantauan orang tua membuat teether menjadi teman, bukan ancaman, bagi gigi yang baru tumbuh.
Dengan dukungan pemeriksaan rutin di klinik gigi anak seperti Sozo Dental, pertanyaan apakah teether aman, perlu diganti, atau sudah berlebihan dapat dijawab dengan jelas. Dengan begitu, kamu bisa mendampingi fase tumbuh gigi si kecil dengan lebih tenang, sambil menjaga senyum pertamanya tetap sehat dan nyaman.