

Tongue tie pada bayi semakin sering dibicarakan karena banyak orang tua yang cemas saat melihat lidah bayi tampak “terikat”. Studi menunjukkan, ankyloglossia atau tongue tie ditemukan sekitar 0,2–5% anak, dan tidak semua kasus menyebabkan gangguan menyusu yang bermakna. Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar bayi dengan tongue tie tetap bisa menyusu efektif tanpa operasi, berkat kemampuan lidah beradaptasi.
Pertanyaannya, apakah tongue tie pada bayi selalu harus dipotong, atau cukup dipantau saja? Artikel ini membantu menjelaskan apa itu tongue tie, derajat keparahannya, dampaknya pada menyusu dan bicara, kapan perlu tindakan, dan bagaimana peran dokter gigi anak di Sozo Dental Clinic dalam menilai kondisi ini secara tenang dan terukur.

Tongue tie (ankyloglossia) adalah kondisi ketika jaringan tipis di bawah lidah (frenulum lidah) terlalu pendek, tebal, atau kencang, sehingga gerakan lidah menjadi terbatas. Akibatnya, lidah bayi mungkin sulit terangkat ke langit-langit, sulit menjulur ke depan, atau tampak membentuk lekukan seperti hati saat dikeluarkan.
Beberapa sistem klasifikasi digunakan untuk menilai derajat tongue tie pada bayi, misalnya:
Derajat keparahan yang dinilai hanya dari bentuk tidak selalu sama dengan derajat gangguan fungsi. Itulah alasan mengapa penilaian tongue tie sebaiknya tidak hanya berdasar foto atau tampilan sekilas.
Dampak utama tongue tie pada bayi biasanya terlihat pada proses menyusu, terutama menyusu langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa sebagian bayi dengan tongue tie mengalami kesulitan mendapatkan pelekatan yang baik pada payudara, sehingga hisapan menjadi kurang efektif.
Dampak yang bisa terjadi antara lain:
Namun, tidak semua tongue tie menimbulkan masalah ini. Ada data yang menunjukkan sebagian besar bayi dengan tongue tie tetap dapat menyusu efektif tanpa tindakan, sehingga keputusan tindakan perlu mempertimbangkan gejala menyusu secara langsung, bukan hanya kondisi anatomi.
Selain menyusu, tongue tie juga sering dikaitkan dengan kekhawatiran terhadap kemampuan bicara di masa depan. Beberapa laporan menyebutkan bahwa frenulum yang sangat membatasi gerakan lidah dapat mempengaruhi pengucapan beberapa bunyi tertentu dan kemampuan menjilat bibir atau membersihkan sisa makanan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
Oleh karena itu, pemantauan jangka panjang dan evaluasi oleh tim yang memahami tumbuh kembang mulut dan bicara menjadi penting.
Tidak semua kasus tongue tie pada bayi memerlukan tindakan pemotongan frenulum (frenotomi atau frenektomi). Ada banyak bayi dengan tampilan frenulum pendek, tetapi menyusu dengan baik dan berat badan naik sesuai harapan.
Tongue tie biasanya cukup dipantau apabila:
Pada situasi seperti ini, dokter biasanya menganjurkan observasi sambil mendukung perbaikan posisi menyusui, bekerja sama dengan konselor laktasi bila diperlukan.
Tindakan pemotongan frenulum (frenotomi) dapat dipertimbangkan bila tongue tie jelas mengganggu fungsi, terutama pada menyusu, dan upaya perbaikan posisi menyusu tidak cukup membantu.
Tongue tie biasanya dipertimbangkan untuk tindakan bila:
Keputusan tindakan idealnya dibuat bersama tim yang memahami baik aspek menyusu maupun kondisi rongga mulut bayi.
Beberapa studi menunjukkan bahwa pada bayi dengan tongue tie yang mengganggu menyusu, frenotomi dapat memperbaiki pola menyusu. Setelah tindakan, jumlah hisapan efektif meningkat dan jeda di antara hisapan menjadi lebih teratur.
Perubahan yang sering dilaporkan setelah frenotomi:
Meski begitu, tidak semua bayi membutuhkan atau akan langsung mendapat manfaat besar dari frenotomi. Penilaian manfaat, risiko, dan kesiapan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.
Penanganan tongue tie pada bayi sebaiknya melibatkan beberapa tenaga profesional. Kombinasi sudut pandang membantu keputusan lebih seimbang dan tidak tergesa-gesa.
Peran yang biasanya dilibatkan:
Pendekatan tim seperti ini memungkinkan kamu mendapatkan gambaran yang lebih utuh, bukan hanya melihat tongue tie dari satu sudut pandang saja.
Di Sozo Dental Clinic, dokter gigi anak dapat membantu menilai tongue tie pada bayi dari sisi struktur dan fungsi. Pemeriksaan dilakukan dengan lembut dan bertahap, menyesuaikan kenyamanan bayi.
Langkah yang umumnya dilakukan:
Kalau kamu curiga si kecil mengalami tongue tie, konsultasi ke dokter gigi anak di Sozo Dental Clinic dapat membantu menilai perlu tidaknya tindakan, atau cukup dipantau dengan dukungan menyusu yang tepat.
Dibanding pendekatan yang langsung menyarankan tindakan, Sozo Dental Clinic mengutamakan penilaian menyeluruh dan edukasi kepada orang tua.
Beberapa keunggulan yang membuat perawatan di Sozo lebih bernilai:
Pendekatan ini membantu orang tua merasa lebih tenang dan yakin bahwa keputusan yang diambil sudah dipertimbangkan dari banyak sisi.
Sambil menunggu jadwal konsultasi mengenai tongue tie pada bayi, ada beberapa hal yang bisa mulai dilakukan:
Dengan kombinasi pemantauan di rumah dan evaluasi profesional di Sozo Dental Clinic, keputusan tentang tongue tie dapat diambil dengan lebih percaya diri. Tongue tie pada bayi tidak selalu harus dipotong, tetapi ketika benar-benar mengganggu fungsi, tindakan yang direncanakan dengan matang bisa membantu perjalanan menyusu dan tumbuh kembang si kecil menjadi lebih lancar.
